Presiden Blunder jika hadiri Imlek Nasional 2019

Kami atas nama Generasi Muda Khonghucu Indonesia mengecam keras tentang Perayaan Imlek Nasional 2019 yang akan diadakan pada tanggal 7 Februari 2019 di JI Expo Senayan Jakarta. Hal ini dikarenakan Panitia terkait penyimpangan dan penistaan agama terhadap umat agama Khonghucu dalam rangka menarik hati Presiden. Maka Generasi Muda Khonghucu dengan tegas meminta Presiden RI Jokowi untuk tidak hadir dalam cara tersebut. Bagi umat Khonghucu Imlek adalah perayaan sakral dan Tahun Baru yang suci yang penuh semangat mengkoreksi diri sendiri menjadi manusia yang memanusiakan manusia :

  1. Adalah sebuah kesesatan pikir dari Panitia memasang tagline Imlek 2019, bahwasannya itu adalah sebuah tindak pemerkosaan sejarah, penghinaan terhadap peradaban yang dapat menyesatkan dan penistaan bagi umat Khonghucu. Adalah tidak mungkin Tahun Baru Imlek dihitung berdasar kalender Gregorian (Masehi) seperti dikatakan 2019 saat ini. Maka penggunaan ‘Tahun 2019’ dalam penyebutan Imlek amat menghina proses peradaban yang ada, dan dapat menyesatkan dan penghinaan bagi ajaran kitab suci Umat Khonghucu yang jelas-jelas Imlek di Indonesia dihitung atas tahun lahirnya Khong Hu Cu yaitu 551SM + 2019 = 2570
  2. Adalah penistaan dan pengkhianatan sejarah ketika menyebut Imlek Nasional Pertama di Indonesia. Bahwasannya sejak Tahun 2000 M, Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2551 Kongzi Li pertama kali dilaksanakan oleh MATAKIN bersama Presiden Abdurahman Wahid dilanjutkan Presiden Megawati dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
    Apa yang dilakukan oleh Panitia Imlek Nasional 2019 adalah sebuah hoaks tingkat tinggi, akan menjadi sebuah kekeliruan besar jika Pemerintah dalam hal ini Presiden berada didalamnya.

Mereka mereduksi sejarah yang dapat kembali membuat penyakit lupa dan bingung akan sejarahnya, seperti yang telah terjadi pada orde baru. Ini adalah sebuah diskriminasi besar bagi umat Khonghucu, Panitia tersebut mencoba menghapus sejarah yang telah ditorehkan oleh Umat Khonghucu di Indonesia. Blunder luar biasa jika Presiden ada bersama mereka, Presiden tidak peka terhadap hoaks dan kezaliman yang ada kepada Umat Khonghucu.

Maka dari itu kami memohon kepada Kapolri dan jajarannya juga untuk peka terhadap persoalan ini agar dapat meninjau kembali ijin dari perayaan tersebut karena mengandung banyak sekali informasi menyesatkan yang dapat membuat kekeliruan sejarah dan menimbulkan konflik horizontal dikalangan masyarakat Tionghoa.

Jangan karena kepentingan politik semata apa saja bisa dilakukan seenaknya; menghapus sejarah, menggantinya sesuai dengan yang diinginkan dan mengorbakan kesucian makna Tahun Baru Imlek bagi umat Khonghucu Indonesia.

Jika hal ini tidak mendapat perhatian khusus maka kami akan bergerak mengambil tindakan somasi dan langkah hukum atas segala hoaks yang diciptakan atas dasar Penistaan Agama kepada umat Khonghucu oleh Panitia tersebut perihal Perayaan Imlek Nasional 2019.
Semoga Presiden tidak terjebak dalam ironi agama yang dibuat oleh sekolompok orang yang ingin memanfaatkan posisi beliau yang dapat menimbulkan kekecewaan besar terhadap umat Khonghucu Indonesia. Presiden harusnya peka terhadap apa yang telah diperjuangkan umat Khonghucu bagi negeri ini yaitu mengindonesiakan Tionghoa Indonesia

Kris Tan
Ketua Umum Presidium Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU) dan Pembina Forum Masyarakat Kelenteng Indonesia (For-MAKIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *